Jangan gengsi

Saya tahu kenapa McD*n*lds sangat laris di sini, karena memang burgernya murah meriah (walaupun saya tidak pernah beli) mulai 1 EUR. Dibanding kebab dan katering yang selalu saya makan 5 EUR, lebih mahalan kebab dan katering saya.

Iklan McD Belanda

Walau demikian, banyak orang Indo (termasuk saya) di Indonesia yang bangga banget makan Mc*. Sampe-sampe dianggap sebagai makanan orang borjuis. Bela-belain pada naik mobil kalo makan, pake baju keren dan ajak pasangan. Padahal di sini dianggap sebagai makanan murah, dan pada jalan kaki. Kalau dibilang sebagai ‘junk food’ atau ‘makanan sampah’ ya ada benarnya.

Sekarang saya tahu kenapa kebanyakan mahasiswa pakai M*c Ap*le sebagai laptopnya, karena memang ini dianggap barang standar dan merakyat. Bahkan hampir semua ruang kerja PhD semua pake merek ini. Sayapun sampai diberi 1 laptop ini dengan spek tertinggi, karena terlalu banyak stok, sampai sekarang tidak pernah saya pakai.
Namun bagi orang Indo (termasuk saya) di Indonesia, pakai barang merek ini derajatnya dianggap langsung naik. Padahal untuk bahasa pemrograman artificial intelligence di lab saya, merek dan OS ini banyak bug (gangguan) nya. Bahkan sampai prof sendiri merekomendasikan w*ndows.

Orang Indonesia itu unik. Penghasilan minimum orang Belanda rata-rata sekitar 1600an EUR (23 juta rupiah), sementara penghasilan minimum di Indonesia rata-rata cuma 2 jutaan. Tentu saja tidak salah membeli barang-barang di atas, namun bagi yang tidak mampu secara ekonomi jangan memaksakan diri.

Sampai sekarang makanan favorit saya ya itu, Mie Ayam, cuma Rp 7.000,- perak. Ditambah saos misterius jadi makin maknyus. 

Mie ayam

Gengsi itu cuma sesaat, setelah memiliki rasanya juga gitu-gitu aja.

“Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan.” (HR. Tirmidzi)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of