Kamar kos Groningen

Kamar kos Groningen

Dari kamar2 ini sudah banyak orang yang sempat tinggal (ngekos) di apartemen kami, mulai dari indonesia, jepang, kanada, nigeria, hungaria, italy, belanda, dan belgia.
Ada banyak cerita yang mereka bawa, baik cerita baik maupun kisah duka. Banyak hal yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi kami sekeluarga, di antaranya:

1. Manusia itu sama, tidak ada ras yang paling hebat. Sebenarnya kitalah yang menentukan kualitas kita sendiri. Sebagian besar yang tinggal di tempat kami adalah mereka yang mencari pekerjaan di belanda. Orang kita banyak yang minder dan merasa lebih ‘bawah’ dari orang bule. Hei! orang indonesia itu tidak kalah hebat, buktinya merekapun ngekos di tempat orang indonesia.

2. Tidak ada negara yang lebih baik, yang penting adalah bagaimana kita bersyukur dan menerima kondisi negara kita. Semua ada plus minusnya. Banyak lulusan mahasiswa kita ingin bekerja di negeri sakura dengan gaji besar. Salah satu yang tinggal di tempat kami adalah lulusan s2 dari salah satu universitas terbaik di negaranya. Iapun sebenarnya sudah memiliki tabungan yang wah, namun benci dengan negaranya karena terlalu sibuk bekerja dan tidak mau kembali ke negaranya apapun alasannya.
Ada lagi yang berasal dari kanada, ia adalah seorang seorang perempuan supir bus kota di kanada berusia 40an. Sayangnya ia baru dipecat dan diperlakukan tidak adil, iapun benci dengan negaranya.
Ada lagi orang hungaria, ia adalah pengusaha kaya raya dulunya, lalu ia gagal total dan kehilangan segalanya. Iapun sekarang menjadi tukang pipa, yang bekerja berpindah2 di negeri belanda.

3. Bersyukurlah, maka nikmat akan terus ditambah. Beberapa kisah sedih yang kami dengarkan dari mereka memiliki banyak kesamaan. Mereka tidak bersyukur akan kondisinya, dan selalu BEJ (Blame, excuse, justify). Intinya mereka menyalahkan pihak luar dan tidak melihat diri sendiri apa yang harus dirubah. Saya tidak berhak menilai orang lain, karena sayapun pernah mengalami masalah yang tidak ringan. Namun kemampuan untuk introspeksi diri itu penting. Kamipun juga mengambil hikmah dari kisah2 mereka. Bersyukurlah apapun kondisinya, walaupun berat. Saya dan istri pun selalu saling menasihati untuk terus bersyukur apapun kondisinya. Banyak kejadian ‘ajaib’ yang kami alami semasa hidup, dan sampai sekarang alhamdulillah hidup kami selalu dimudahkan.

4. Hidup itu berputar, kadang bisa di atas dan bisa di bawah. Janganlah pernah sombong, karena di atas langit selalu ada langit. Dan Dialah yang ‘memegang’ hidup kita, bukan manusia. Janganlah merasa paling pintar karena lulusan dari kampus terbaik di Indonesia. Janganlah merasa paling hebat karena bisa kuliah di luar negeri dan dibiayai. Janganlah takabur dan merendahkan orang lain, karena bisa saja kita mati sebentar lagi. Ini juga merupakan nasihat bagi saya sendiri 🙂

5. Berkelanalah. Hijrahlah. Lihatlah dunia, maka kita akan menyadari bahwa ilmuNya itu sangat luas. Jika kita hanya berkutat di situ-situ saja maka kita tidak akan berkembang. Ini serius! Pergilah! Hijrahlah! Masuklah ke zona tidak nyaman! Maka di situ kita akan tumbuh. Seperti seekor udang yang hanya bisa tumbuh dengan melepaskan cangkang lamanya. Bersiaplah bertemu orang-orang hebat dengan berhijrah! Bersiaplah menjadi pribadi yang baru dengan berhijrah!

6. Jika sudah menikah, maka bahagiakanlah pasangan dan anak2. Berbagilah dengan mereka. Ajak mereka jalan2. Keliling dunia jika perlu. Uang bisa dicari, tapi memori indah bersama tidak bisa dibeli. Manjakan mereka. Yang membedakan kami dengan mereka adalah, kami sudah berkeluarga sedangkan mereka belum. Jika kami memiliki masalah, maka keluarga adalah tempat berbagi dan melepas lelah.

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” [Al-Baqarah/2:152]

Semoga kisah ini bermanfaat.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of