Menjadi dosen di Indonesia

“Menjadi dosen di Indonesia itu berat, kamu ga akan kuat, biar aku saja!”

Mungkin itu adalah kalimat yang sesuai jika diucapkan oleh para dosen di Indonesia. Menjadi dosen itu sebenarnya menyenangkan, namun harus siap menghadapi segala lika-liku kehidupan perdosenan.

Saya ingin bahas tentang kehidupan para dosen di Indonesia, sehingga pembaca mendapat gambaran tentang perdosenan di Indonesia (khususnya jika pembaca tertarik menjadi seorang dosen). Tentunya apa yang saya tuliskan di sini berdasarkan pengamatan saya dari pengalaman sahabat-sahabat saya yang juga dosen, mulai dari dosen junior hingga dosen senior. Pengamatan juga saya lakukan mulai dari kampus negeri ternama, kampus swasta, baik yang ramai mahasiswa hingga yang sepi mahasiswa. Tidak semuanya mungkin sama dengan apa yang pembaca lihat di kampus tempat kuliah saat ini atau kampus tempat bekerja, namun semoga garis besarnya bisa memberikan gambaran yang cukup.

Sebelum saya bahas lebih detail, saya perkenalkan dulu 3 tipe dosen yang selama ini kita kenal dan sering ditemui. Kemudian nantinya akan saya bandingkan dengan kondisi perdosenan di negeri Belanda tempat saya studi.

Beberapa jenis dosen tersebut antara lain:

1. Dosen yang ingin mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa

Pengabdian, menurut saya adalah faktor terbesar mengapa seseorang ingin menjadi dosen. Kata pengabdian ini memiliki makna yang mendalam bagi mereka. Pengabdian adalah ladang amal. Ya, itulah tujuan utama yang mereka cari.

“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)

“Apabila anak Adam meninggal, maka terputus darinya semua amalan kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 4310)

Di Indonesia, dosen masih sangat identik dengan profesi guru. Umumnya, mereka ingin menjadi dosen karena ingin mengajar. Itulah tujuan utamanya! menjadi guru! Hanya saja muridnya bukan anak sekolahan, tapi orang-orang dewasa (khususnya kelas karyawan). Selama mereka bisa menyalurkan keinginan tersebut, maka mengajar menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Melihat mahasiswanya sukses setelah diwisuda adalah kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

2. Dosen peneliti

Umumnya, mereka adalah dosen-dosen senior. Mereka memiliki kepangkatan Lektor Kepala atau bahkan Guru Besar (Profesor). Mereka sangat suka meneliti. Jika Anda lihat portofolio, atau CV nya, maka akan muncul banyak publikasi-publikasi, seminar dan konferensi di dalam maupun luar negeri. Mereka juga sangat rajin mengikuti seleksi hibah penelitian baik di dalam maupun luar negeri. Mendapatkan gelar Profesor adalah impian mereka.

3. Dosen yang suka proyek

Setelah menjalani profesi dosen selama beberapa waktu, maka mulailah mereka menemukan celah untuk mendapatkan penghasilan tambahan, yaitu dengan mengambil proyek-proyek. Proyek bisa didefinisikan ke dalam berbagai contoh, semisal memberi ceramah, seminar, menjadi konsultan, mengajar di tempat lain, program kerjasama dan lain sebagainya.

Biasanya, mereka yang sudah ketagihan dengan proyek, mulai kesulitan mengatur waktunya di kampus. Mulailah mereka sering mengganti jadwal kuliah, atau dalam kondisi ekstrim, asisten dosen yang menggantikan mereka mengajar.

Lifestyle merekapun berbeda dengan dosen kebanyakan. Mereka jarang muncul di kampus, dan hanya muncul saat jadwal mengajar kuliah saja. Mereka sulit ditemui, dan susah dicari. Namun, jika Anda tawari mereka proyek, justru mereka yang akan mencari Anda.

Ilustrasi dosen mengajar

Ketiga contoh tipe dosen di atas sebenarnya merupakan bentuk aplikasi nyata dari tridharma perguruan tinggi, yakni mengajar, meneliti, dan pengabdian masyarakat. Mereka yang masuk golongan pertama (mengabdikan diri untuk pendidikan), adalah mereka yang ingin mengajar. Mereka yang masuk golongan kedua (peneliti) adalah mereka yang suka melakukan penelitian, dengan output berupa jurnal, workshop, konferensi, dan seminar. Sementara jenis ketiga (dosen proyek) bisa masuk ke dalam aplikasi pengabdian masyarakat, dengan membuat kerjasama, dan beberapa aplikasi keilmuan ke masyarakat sekitar.

Walaupun menjadi dosen nampak seru, namun dibalik itu semua butuh perjuangan yang tidak mudah. Jangan salah, menjadi dosen tetaplah karir yang menjanjikan. Namun itu hanya bagi mereka yang sangat produktif dalam hal penelitian, pengajaran, dan pengabdian masyarakat (ketiga-tiganya sekaligus). Jika hanya unggul salah satu saja, maka karir dosen (dalam hal kepangkatan – Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, Guru Besar) akan stuck di situ-situ saja. Walau demikian, bagi dosen proyek, kepangkatan tidaklah penting.


Sepanjang pengamatan saya, dosen Indonesia umumnya lemah di penelitian. Salah satu alasannya adalah semangat melakukan penelitian sangat kecil.

Ada alasan logis di balik ini, antara lain:

A. Bayaran dosen kecil (gaji saja)

Dosen di Indonesia, secara umum, bayarannya kecil. Jika ia dosen honorer di kampus negeri, maka gajinya berkisar antara 1-2 juta per bulan. Jika ia dosen tetap di kampus negeri, maka gaji pokoknya terkadang tidak sampai angka 4 (belum termasuk tunjangan kepangkatan, serdos, jabatan fungsional dan proyek). Itu di kota, bagaimana di daerah? Bisa jadi lebih kecil. Selain itu, kampus swasta lebih bervariasi, bisa jauh lebih tinggi dari standar PTN (Perguruan Tinggi Negeri), namun bisa jauh lebih rendah, tergantung jumlah mahasiswanya. Semakin banyak mahasiswanya, maka semakin makmur kampusnya secara finansial. Tidak jarang, ada beberapa kampus swasta yang bisa menggaji dosennya di atas 10 juta, namun kampus seperti ini masih bisa dihitung jari.

Mengapa faktor gaji ini penting? Karena pekerjaan dosen tidak hanya mengajar. Saat ini dosen dituntut untuk mempublikasikan penelitian mereka dengan standar indeks Scopus (nama database penelitian milik perusahaan swasta) dengan format bahasa inggris. Jika tidak maka akan berdampak pada kepangkatan mereka dan sertifikasi dosen. Masalahnya, tidak semua dosen fasih menulis dalam bahasa inggris. Tidak jarang pula, sebagai jalan pintas, kasus plagiasi-pun marak terjadi:

Bayaran kecil, namun dituntut berkinerja tinggi? Pekerjaan yang tidak mudah. Mungkin ada yang mengatakan, jangan ambil penghasilan dosen sebagai angka bulat, sebaiknya memakai rasio antara gaji dosen dengan biaya hidup di tempat ia tinggal. Menurut saya, alasan itu tidak relevan, karena tetap saja dengan penghasilan 4 juta sebulan untuk mencicil rumah akan sangat merepotkan, baik di desa apalagi di kota. Maka tidak jarang ditemui, para dosen memiliki rumah yang sederhana, tentu tidak semuanya.

Bayaran yang kecil bukanlah masalah sepele. Beberapa dari kita sudah mengetahui bahwa kebutuhan dasar manusia berdasarkan teori Maslow adalah kebutuhan fisik (khususnya masalah dapur). Jika sudah berumah tangga juga pasti memahami kebutuhan dasar ini. Saat seorang dosen kesulitan memenuhi kebutuhan dapurnya, lalu bagaimana mungkin ia fokus melakukan penelitian? Mengingat sebagian besar dosen tujuan utamanya adalah mengajar dan bukan penelitian.

Sebagai pembanding, di Belanda gaji terendah seorang dosen (di sini disebut dengan istilah Assistant Professor) adalah 3500 euro. Jika dipotong pajak 30% maka penghasilan bersih mereka adalah 2450 euro atau sekitar 40 juta rupiah. Ini adalah gaji dosen terkecil, belum termasuk fasilitas pengembalian pajak, seperti sekolah gratis, potongan biaya penitipan anak, tunjangan pensiun, dll. Biaya hidup di Belanda (jika ingin diambil rasionya) juga tidak besar. Dengan uang 1700 sudah hidup bahagia dengan istri/suami dan 2 anak lengkap dengan apartemen/rumah dan isi-isinya. Tentunya dengan gaji sebesar ini, melakukan penelitian menjadi tantangan yang memotivasi, dan bukan beban yang menghambat prestasi, mengingat masalah dapur sudah bisa diatasi.

B. Susahnya birokrasi penelitian di Indonesia

Untuk melakukan penelitian maka butuh dana yang tidak kecil. Ristekdikti dalam hal ini sudah memfasilitasinya melalui fasilitas dana hibah. Untuk dosen baru misalnya, bisa mengajukan dana hibah penelitian pemula. Walau demikian, secara keseluruhan prosesnya tidak mudah. Khususnya di saat laporan pertanggung jawaban penelitian yang sangatlah rumit. Mengapa rumit? Karena dosen yang meneliti juga diharuskan melaporkan pertanggungjawaban lengkap dengan penggunaan dana setiap rupiahnya. Terkadang belum sempat melakukan penelitian, deadline laporan sudah di depan mata. Yang lebih merepotkan adalah dosen harus melakukan itu semuanya.

Menurut hemat saya, hal-hal yang menyangkut birokrasi penelitian adalah pekerjaan seorang sekretaris. Di Belanda, semua proses administrasi ini dilakukan oleh sekretaris departemen. Benar, dosen yang membuat dan mengajukan proposalnya, namun ia tidak berkutat dengan administrasi sedetail administrasi di Indonesia.

Sudah gaji kecil, laporan ribet, output penelitian harus setara dengan mereka yg bergaji 40 juta/bulan, dan disuruh urus administrasi yang tidak masuk perhitungan beban kerja (padahal beban kerja harus selalu dilaporkan), menantang bukan?

C. Fasilitas yang minim
Kurang pas memang mencantumkan alasan ini, karena ini salah satu bentuk pesimisme. Bukankah kita seharusnya optimis? Benar, namun jika kita optimis tanpa didukung fasilitas yang sesuai, maka ketika kita menemukan jalan buntu, kita bisa disebut sebagai orang yang tidak realistis.

Ilustrasi penelitian di lab

Fasilitas yang memadai didukung oleh dana yang memadai. Itu semua bergantung dari kemampuan finansial masing-masing kampus, dan seberapa besar prioritas kampus untuk membiayai penelitian para dosennya. Selain itu, minimnya fasilitas juga disebabkan karena sebagian besar kampus swasta menginduk pada penelitian kampus besar di Indonesia (sebut saja ITB, UI, UGM). Sementara, kampus besar ini justru menginduk pada kampus terkenal lainnya di luar negeri (semisal MIT, Tokyo University, Nanyang untuk keteknikan) untuk pengembangan penelitian dan kurikulumnya. Dengan demikian, masalah fasilitas kita selalu mengekor, dan susah untuk melaju selangkah lebih awal.

Menjadi dosen memang penuh dengan perjuangan. Mereka yang masih bertahan adalah mereka yang ingin mengabdi, itu saja. Selama bisa mengajar, itu sudah cukup. Selama mereka bisa mengajar, maka mereka bangga disebut dosen. Jika mendapatkan kepangkatan, jabatan fungsional adalah variasi tambahan saja yang berimbas pada pemasukan tambahan walaupun beban kerja juga bertambah.


Penghasilan dosen

Lalu, mungkin muncul pertanyaan. Dosen yang banyak proyek berapa penghasilannya? Tentunya jawabannya bisa sangat variatif, tergantung kesibukan dosen tersebut apa saja, jenis proyeknya apa, seberapa luas dampak proyeknya, seberapa rutin, dll.

Berikut estimasi penghasilan dosen menurut pengamatan saya. Tentunya angka ini bisa lebih besar dan lebih kecil, tergantung di mana ia bekerja:

  • Gaji pokok = 3-5 juta/bulan, untuk kampus swasta besar bisa di atas 10 juta.
  • Tunjangan serdos (oleh negara) = 1 kali gaji pokok/bulan, biasanya dibayarkan 3 bulan sekali
  • Tunjangan THR = 1 kali gaji pokok (1 kali per tahun)
  • Tunjangan kepangkatan (asisten ahli-guru besar) = 375 rb – 1,35 juta/bulan
  • Jabatan fungsional (menjabat kepala lab, kaprodi, dekan, rektor, dll) = 250 rb – di atas 10 juta/bulan
  • Membimbing mahasiswa = 250 rb – 1 juta/mahasiswa
  • Mengisi seminar = 250 rb – 2 juta/seminar (biasanya 1-2 jam)
  • Mengisi workshop = 250 rb – 2 juta/workshop
  • Mengisi pelatihan = 3-10 juta/pelatihan (satu topik)
  • Sebagai konsultan = di atas 10 juta (satu proyek, lumpsum)
  • Konferensi dan kongres di luar negeri = dibiayai panitia termasuk transport dan akomodasi (sebagai pembicara)
  • Komersialisasi paten (HAKI) = unlimited
  • Sebagai pengusaha linear dengan keilmuannya = unlimited

Penghasilan dosen jika hanya mengajar di kampus saja memang tidak banyak. Namun jika baginya itu sudah cukup, tentunya tidak masalah. Segala sesuatu haruslah disyukuri. Walau demikian, jika ia ingin lebih, maka ia harus kreatif dan tentunya tetap menjalankan tridharma (mengajar, penelitian, pengabdian masyarakat) dengan baik. Menyeimbangkan kewajiban sebagai dosen di kampus dan kreatif di luar tentu sesuatu yang menantang dan mengasyikkan.

Mungkin ada yang berkomentar, “Sepertinya saya tertarik sekali menjadi dosen. Jika saya suka mengajar, apakah saya bisa menjadi dosen? Apakah saya cocok menjadi dosen? Rasa-rasanya saya memang ditakdirkan menjadi dosen!”.

Berikut beberapa tips dari saya, apakah Anda cocok menjadi dosen atau tidak:

  1. Jika Anda suka mengajar, Anda cocok menjadi dosen
  2. Jika Anda suka membaca buku dan menemukan sesuatu yang baru, Anda cocok menjadi dosen
  3. Jika Anda suka melihat orang lain lebih sukses dari Anda, Anda cocok menjadi dosen
  4. Jika Anda suka studi sampai jenjang doktoral (S3), Anda cocok menjadi dosen
  5. Jika Anda suka dunia sains, ilmu pengetahuan, dan teknologi, Anda cocok menjadi dosen
  6. Jika Anda memiliki gelar magister/master (S2), Anda bisa menjadi dosen
  7. Jika Anda ingin dipanggil Professor, Anda harus menjadi dosen
  8. Jika Anda memenuhi semua kriteria di atas, Anda akan menjadi dosen luar biasa!

Apakah Anda memiliki pengalaman lain sebagai dosen? Silakan tulis di komentar ya.

Semoga tulisan ini bermanfaat, setidaknya memberikan gambaran tentang lika-liku perdosenan di Indonesia.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of