Catatan Pendidikan Anak di Belanda

Catatan Pendidikan Anak di Belanda

3,5 tahun sudah kami tinggal di Groningen. Kota yang awalnya namanya saja belum pernah kami dengar kini menjadi salah satu kota favorit bukan hanya karena lingkungannya yang bersih, nyaman, tetapi orang-orang didalamnya yang membuat hati kami terpaut dengan Groningen. Semakin hari kami pun menyadari bahwa waktu kami disini sudah semakin menipis. Karena memang 4 tahun lah target masa study pak suami, setelah itu kami harus kembali ke tanah air untuk kembali mendampingi paksuami memenuhi kewajibannya.

Sebagai seorang ibu salah satu hal yang pertama saya pikirkan adalah bagaimana dengan Pendidikan untuk Mimi dan Lili sekembalinya kami ke Indonesia. Saat kami hijarah ke Belanda, sekolah mimi dan lili belum menjadi `pertimbangan kami karena saat itu usia mereka belum masuk usia wajib sekolah, kakak Mimi baru 4 tahun sedangkan Lili baru 1,5 tahun. Alhamdulillahnya pendidikan di Belanda tidak menyulitkan bagi kami sebagai imigran. Semua anak usia sekolah dasar bisa masuk sekolah ketika usia genap 4 tahun. Standar pengajar dan kurikulum pun hampir sama, jadi kami memilih sekolah hanya berdasar lokasi yang paling dekat dengan rumah. Karena kami pernah pindah rumah, otomatis sekolah anak2 pun juga kami pindahkan yang paling dekat dengan rumah kami. Ternyata administrasinya pun tidak rumit sama sekali. Kami hanya bilang ke guru kelas yang lama bahwa kami akan pindah, selanjutnya guru tersebut yang mengurus administrasinya. Bahkan guru yang baru menelepon guru kelas yang lama untuk menanyakan perkembangan calon muridnya. Benar2 memudahkan orang tua murid. Alhamdulillah.

Kembali lagi dengan persiapan kepulangan kami. Selain mempersiapkan mental anak2, dengan memberitahu bahwa sebentar lagi kami akan kembali ketanah air, kami pun mulai mencari tahu tentang sekolah2 di Tangsel. Ternyata yang mengejutkan saya, pendaftaran siswa baru untuk tahun ajaran 2020-2021 sudah dibuka sejak akhir tahun 2019 lalu, MasyaAllah benar2 tidak saya sangka sebelumnya, karena selama ini saya memang tidak mengikuti perkembangan pendidikan di Indonesia.

Setelah mencari2 informasi, akhirnya kami mendaftarkan Mimi dan Lili di salah satu sekolah swasta yang target pencapaiannya sesuai dengan harapan kami. Kami sudah komunikasikan saat mendaftar bahwa kami masih akan berada di Groningen sampai setidaknya akhir tahun 2020, sehingga anak2 kami akan terlambat untuk bergabung di sekolah tersebut. Dari pihak sekolah bisa memahami, namun untuk berada di kelas berapa anak kami nantinya disesuaikan dengan hasil interview dan observasi yang akan dilakukan akhir bulan nanti. Tentu saja karena kami jauh, prosesnya akan dilakukan secara online. KBM pun masih secara online selama masa pandemi ini, jadi bukan hanya karena jarak tapi karena memang semua serba online untuk saat2 sekarang ini.

Tentang nantinya anak kami akan berada di kelas berapa kami sebagai orang tua akan mengikuti hasil dari pihak sekolah. Sebenarnya ada yang menarik menurut saya. Mindset saya sebelum pindah ke Groningen ingin anak saya sekolah saat usia muda. Seperti beberapa orang tua pada umumnya yang memiliki penilaian semakin muda semakin baik, nantinya masih muda sudah lulus sekolah. Tetapi setelah saya merasakan kehidupan di Groningen, suasana belajar mengajar disini (untuk anak2 saya ya, karena saya ga ikut sekolah ๐Ÿ˜…) membuat saya semakin menyadari bahwa, anak2 itu sebaiknya tidak dihadapkan dengan lingkungan yang kompetitif, karena mereka memang belum siap. Pasti kita tidak heran saat bermain bersama anak kemudian Qodarullah anak kita kalah mereka menangis dan tidak terima dengan kekalahannya. Hal ini memang wajar karena anak2 memang belum siap untuk kalah. Alhamdulillah selama sekolah disini, anak2 tidak mengenal ranking, karena memang evaluasi dari sekolah itu selalu bersifat individual. Orang tua akan diberi tahu hasil perkembangan anaknya tanpa membandingan dengan perkembangan anak2 lain. Tidak ada nama ranking 1, 2, 3 dan seterusnya yang ditulis di papan tulis kelas, karena tujuan sekolah memang bukan untuk kompetisi antar murid.

Kami menyadari betul bahwa usia bukan indikator kesuksesan, saat ada yg bilang suami sy masih muda sudah sekolah S3, sebenarnya banyak yang lebih muda, dan ada pula yang memulai di usia yang tak lagi muda, namun mereka pun bisa melaluinya. Bahkan banyak orang2 sukses yang tidak perlu mengenyam pendidikan hingga jenjang S3. Ini yang membuat kami benar2 sadar, jangan membebani anak2 kita dengan standar yang berlebihan, anak2 punya kesiapannya sendiri2. Tidak perlu saling dibandingkan, karena setiap anak punya minat dan bakat yang berbeda2. Kakak beradik saja berbeda minatnya apalagi anak orang lain.

Alhamdulillah, kami mensyukuri Rahmat Allah, dengan kesempatan mencicipi kehidupan di Groningen ini banyak merubah pola pikir dan sudut pandang kami. Kami pun sudah berkomitmen untuk pendidikan anak2 kami ke depannya yang akan kami fokuskan dan utama adalah pendidikan akhlak dan agamanya. Setelah itu semua kuat, InsyaAllah ilmu Allah akan dapat mereka serap dengan lebih baik. Tak perlu melulu menjadi juara kelas, yang penting mengenal Tuhannya pasti mereka akan mengenal diri mereka sendiri dan akan mengetahui tujuan hidupnya. Wallahu alam.

Tulisan ini semata2 untuk pengingat diri, jikalau nanti terlena dan lupa tujuan. Sadar diri bahwa kadang baper melanda ๐Ÿ˜Š

Bagikan artikel ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments