Tongue Tie dan Lip Tie Anak

Tongue Tie dan Lip Tie Anak

Hari pertama setelah melahirkan kraamzorg (suster yang merawat ibu dan baby) datang ke rumah kami pukul 14.00 CET. Kraamzorg yg datang mampu berkomunikasi dgn bahasa Inggris, sesuai dengan request kami saat mengajukan kualifikasi khusus kraamzorg yang diharapkan. Karena di rumah sudah ada uti dan mami yang membantu kami jadi kami hanya mendaftar kraamzorg dgn waktu paling minimal yaitu 3jam x 7 hari.

Perawatan pasca melahirkan di Belanda berbeda dgn di Indonesia. Kalau di Indonesia perawatan diperoleh selama di RS, sedangkan di Belanda 7hari pertama merupakan masa paling penting utk ibu dan bayi jadi harus ada pemantauan dari tenaga medis, disini disebut kraamzorg, yang akan bekerja di rumah pasca ibu melahirkan pulang dari RS. Karena saya melahirkan di rumah jadi kraamzorg datang pertama sejak bidan menelefon untuk membantu proses persalinan dan datang kembali setiap harinya utk memantau perkembangan.

Alhamdulillah kondisi saya dan baby Alia stabil, ASI saya juga langsung keluar, mungkin karena ini anak ke3 jadi tidak seperti saat melahirkan anak pertama dimana ASI baru lancar di hari ke 3. Kraamzorg mengecek suhu tubuh, tekanan darah, kondisi rahim dan jahitan saya. Alhamdulillah semua baik. Baby Alia juga kondisinya sehat, BB sedikit turun dan itu wajar untuk bayi baru lahir.

Sejak hari pertama saya sudah bisa betaktivitas seperti biasa, untuk berjalan dan ke kamar mandi Alhamdulillah jahitan tidak terasa sakit, berbeda dengan jahitan saat melahirkan pertama dan kedua, mungkin karena pengaruh luka yang tidak terlalu besar. Alhamdulillah Mimi dan Lili pun sangat antusias dengan adiknya. Bahkan kakak Lili yang pertama kalinya naik status dari adek menjadi kakak, sangat bangga saat dirinya disebut kakak. Pulang sekolah langsung mencari adiknya dan berkata “hallo adek ini kakak sudah pulang”. MasyaAllah sebagai ibu rasanya senang sekali karena kedua kakaknya sangat sayang dengan adeknya.

Hari ke 2 sampai ke 4 tidak ada keluhan yang berarti. Hanya saja BB baby Alia tidak juga bertambah, malah berkurang sedikit2. Kondisi yang sangat aneh, karena waktu menyusunya cukup intens, produksi ASI saya juga cukup, karena breast pad selalu basah tandanya ASI banyak yang rembes. Bahkan dalam satu hari saya bisa ganti breast pad berkali2. Qodarullah kraamzorg yg harusnya menemani sampai hari ke 7 mengatakan bahwa dia hanya bisa sampai hari ke 5, karena di hari ke 6 adalah jadwalnya cuti. Kraamzorg berharap di hari ke 5 BB alia sudah naik jadi dia bisa meninggalkan saya dengan tenang.

Alhamdulillah di hari ke 5 BB Alia naik, walaupun tidak banyak hanya 10 gr, setidaknya sudah ada kenaikan. Keluhan yang saya rasakan memang Alia di malam hari sangat rewel. Tidur tidak nyenyak, setiap jam minta minum. Namun saya pikir ini hal yang biasa untuk bayi baru lahir. Saat saya sampaikan ke kraamzorg pun dia bilang itu “Wajar saja, bayi tadinya hangat diperut sekarang dia lebih ingin banyak menempel padamu”.

Hari ke 6 Kraamzorg yang baru datang ke rumah kami. Kraamzorg yg kedua ini beda secara personality dgn yg pertama. Yg pertama lebih ceria dan enerjik. Yg kedua ini sangat keibuan, detail dan kalem. Dia mengecek saya dan Alia dengan sangat teliti. Kami dikejutkan dengan berat badan Alia yg kembali turun. Kraamzorg memberi catatan mungkin karena timbangannya berbeda dengan rekan sebelumnya jadi besok akan di cek lagi, semoga ada kenaikan BB. Kraamzorg ini salah satu tugasnya mengisi Jurnal harian, berisi tentang kondisi ibu dan bayi. Setiap hari ketika kraamzorg ini sudah pulang kami yang harus melanjutkan mengisi jurnal harian baby. Harus dicatat kapan baby minum ASI, berapa lamanya, kapan BAK, BAB, dan juga ditulis suhu tubuhnya. Jadi selama 7 hari pertama semua harus tercatat dengan detail untuk memastikan baby dalam kondisi yang baik. Apabila ada kondisi yang tidak sesuai dengn kondisi normal maka kraamzorg akan menghubungi bidan untuk mendiskusikan langkah penanganannya.

Alhamdulillah kondisi Alia tampak baik semua. Warna kulit mengarah ke pink (tidak kuning), suara tangisannya cukup keras, jadi tidak ada tanda kegawatan yang perlu membuat kami khawatir.

Hari ke 6 Qodarullah saya demam. Padahal sebelumnya tidak ada keluhan apa2 selain payudara yang bengkak karena produksi ASI yang berlebih, sudah di treatment dengan kompres air hangat, analisisnya karena produksi melebihi kebutuhan bayi sehingga ASI tdk seluruhnya keluar menyebabkan ibu demam. Saya memang tidak membeli pompa ASI, berkaca dari pengalaman sebelumnya. Saat anak pertama, saya rajin memompa ASI sehingga produksi sangat berlebih, sedangkan saat itu baby Mimi tdk mau minum ASI dari botol akhirnya ASI yg beku sia2 (kami tdk menyumbangkan karena kami memiliki pertimbangan sendiri). Anak kedua saya, lili, full direct breastfeding jadi untuk Alia saya pun merencanakan hal yang sama.

Manusia boleh berencana tapi Allah sebaik2 pembuat rencana. Saat saya demam inilah, kraamzorg menyarankan untuk memompa ASI saya. Kemungkinan besar demam saya disebabkan oleh penyumbatan ASI. Kraamzorg jg mengatakan dia mencurigai ada kemungkinan Alia memiliki tongue-tie, karena intensitas menyusu tinggi dengan kondisi produksi ASI saya cukup banyak namun berat badan tidak naik malah berkurang setiap harinya.

Bukan pertama kalinya saya mendengar tentang tongue tie dan lip tie. Karena sejak mempunyai anak menjadi hal yang wajar jika ibu membaca artikel2 tentang kesehatan dan perkembangan baby. Tongue tie adalah kondisi dimana tali lidah baby sangat tebal, menyebabkan lidah tidak dapat bergerak secara leluasa. Sedangkan lip tie kondisi dimana selaput penghubung bibir atas dengan gusi sangat tebal sehingga bibir atas menjadi terbatas pergerakannya. Dimana kedua kondisi tersebut mempengaruhi kemampuan bayi dalam menghisap. Namun dibeberapa kasus tongue tie dan lip tie tidak mempengaruhi proses menghisap bayi.

Setelah dipompa saya merasa kondisi saya lebih baik. ASI hasil pompa pun langsung diberikan kepada Alia lewat botol (saran dari kraamzorg agar Alia bs mengkonsumsi ASI dgn maksimal), karena kondisi tongue tie menyulitkan baby menghisap puting secara langsung. MasyaAllah setelah minum ASI lewat botol Alia tidur lebih nyenyak. Saya merasa sangat bersalah, berarti selama ini dia kelaparan, karena blm bisa menghisap maksimal, pantas saja setiap malam selalu menangis.

Hari ke 8 demam saya sudah turun, namun produksi ASI menurun drastis. Kraamzorg menelfon laktasi kunde (ahli laktasi) utk menanyakan kondisi saya. Dikarenakan selama seminggu ASI saya seperti tidak di konsumsi menyebabkan produksinya berkurang, ditambah sempat demam, jadi kelenjarnya seperti dalam kondisi reses. Harus tetap di pompa utk mengembalikan produksinya. Namun karena Alia sudah berusia seminggu kebutuhan konsumsi ASInya sudah cukup banyak, sekali minum sekitar 90 ml. Sedangkan saat saya pompa, yg awalnya bs dapat 90 ml lebih menjadi hanya 30ml. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya saat itu.

Sedih, bingung, kecewa dan semua perasaan bersalah membuat kondisi psikis saya menjadi drop. Mungkin itu semakin menghambat produksi ASI karena busui harus happy itu bukan mitos. Alhamdulillah saya punya suami yg sangat mendukung saya. Suami sy menyerahkan semua keputusan kepada saya. Saat kraamzorg mengatakan “kita sebaiknya menambah susu formula untuk Alia, karena dia masih kelaparan”. Suami saya hanya bilang “terserah bunda aja”. Akhirnya saya setuju dan suami segera membelikan formula utk Alia.

Saat itupun saya masih belum mau menyerah, saya masih terus memompa ASI saya. Sudah mirip seperti sapi perah yang dipasang alat perahnya. Pompa ASI hampir selalu terpasang, saya makan banyak, minum banyak, minum vitamin, makan kurma, semua yang bisa saya usahakan agar Produksi ASI saya kembali lagi. Tapi bagaimanapun juga tubuh kita ini butuh proses, seperti kata ahli laktasi, kelenjar saya butuh rehat sejenak.

Sebagai ibu ada perasaan bersalah. Kedua kakaknya full ASI. Aliapun memiliki kesempatan yang sama, jikalau saya tahu dia tongue tie sejak awal, saya bisa memberikan ASI melalui media lain. Tapi bagaimanapun juga semua sudah terjadi. Kita tidak boleh mengandai2. Ini semua adalah takdir. Saya yang harus belajar ikhlas.

Sehari sebisa mungkin hanya 1x sesi minum susu formula. Selebihnya saya usahakan dari ASI saya sendiri. Jangan ditanya bagaimana proses pompanya. Saya sendiri seperti sudah tidak bisa melakukan hal lain selain pompa, pompa dan pompa. Alhamdulillah karena ada Uti dan Mami membersamai kami, Mimi dan Lili masih ada yang mengurus. Mimi dan Lili anak solehah memahami bundanya masih dalam kondisi yang berat, harus fokus memompa jadi mereka tidak banyak menuntut.

Karena kondisi Alia masih harus dipantau jadi kami pun mengextend Kraamzorg yg harusnya hanya 7hari menjadi 10hari. Kraamzorg sebenarnya sangat mendukung ASI eksklusif, tetapi kesehatan ibu dan baby menjadi prioritas. Karena bayi masih lapar dan ASI tidak mencukupi maka saran terakhir berupa pemberian sufor harus dilakukan. Kraamzorg pun memberi dukungan moril kepada saya saat sedang down dengan kata2 sederhana “Kamu sudah melakukan yang terbaik Mama”, dan selalu mengapresiasi setiap dia sedang melihat saya memompa. Dukungan2 kecil seperti itu cukup ampuh mengembalikan kondisi psikis saya yang sempat down.

Alhamdulillah sejak diberi ASI lewat botol + formula sehari 1x berat badan Alia sudah bertambah. Di hari ke 10 Kraamzorg berpamitan kepada kami dia pun mengatakan “Semoga Alia tumbuh sehat, kalian orang tua yang hebat dan semoga kalian berkenan dengan pelayananku selama ini”. Huhuhu rasanya terharu sekali, Kraamzorg ini sudah banyak membantu saya dan Alia. Kraamzorg juga yang membantu kami membuat appointment untuk insisi Alia. Dia juga aktif menelpon ahli laktasi untuk memberi nasihat2 kepada saya, kalau saya yang menelpon maka akan dikenai tarif normal (konsul langsung dengan ahli laktasi sekitar 90 euro, via tlp sekitar 30 euro). Jika kraamzorg yang menelpon maka kami tidak dikenai biaya sama sekali alias gratis.

Saat usia Alia 11 hari jadwal baby Alia ke TangueRiem, dentist khusus untuk anak2 dengan tangue tie& lip tie. Qodarullah setelah diperiksa benar bahwa baby Alia memiliki tangue tie dan lip tie. Kondisi ini memang terjadi pada beberapa baby, biasanya karena genetis. Di kasus baby Alia tongue tie dan lip tienya menghambat proses menghisapnya, sehingga dia kesulitan ketika direct breast feeding. Saat itu juga dilakukan tindakan insisi, prosesnya sangat cepat menggunakan laser. Ternyata setelah insisi harus ada treatment agar lukanya tidak tersambung lagi. Dan treatment itu dilakukan setiap 6 jam jadi sehari 4x tidak boleh ada yang terlewat dengan cara menggosok2kan jari yang sudah diberi cocosolie. Saat treatment tentu saja Alia menangis bukan cuma Alia bundanya pun ikut menangis krn pasti rasanya sakit seperti kita sedang sariawan tapi disentuh2 😭😭

Alhamdulillah setelah seminggu, oleh ahli laktasi dinyatakan tongue tie & lip tie Alia sudah hilang. Dan sehari setelah insisi Alia sudah full ASI lagi, karena produksi ASI bundanya sudah kembali normal. MasyaAllah..Tabarakallah cukup 4 hari saja Alia ditambah susu formula.

Alhamdulillah saya bersyukur melahirkan Alia di Belanda, dimana setelah melahirkan berat badannya ditimbang setiap harinya. Qodarullah disaat Alia memiliki tongue tie disaat penanganan medis sangat mencukupi. Semua biaya insisi dan konsultasi ahli laktasipun gratis, karena semua fasilitas kesehatan utk anak sampai usia 18 th di Belanda itu gratis. Alhamdulillah badai pasti berlalu, disetiap kesulitan ada dua kebaikan.

Setelah menghadapi kesulitan dibulan awal setelah kelahiran Alia, saya pribadi menjadi lebih mensyukuri setiap tetes ASI. Sungguh manusia itu lemah, sekuat2nya saya memompa ASI ketika Allah belum mengijinkan ASI yg keluar pun tidak sebanyak yang diharapkan. Disaat sudah ikhlas dan berpasrah Qodarullah ASI saya kembali melimpah..Alhamdulillah rasa syukur tak berkesudahan saat bisa kembali menyusui Alia secara langsung. Yang penting jangan berputus asa, dan selalu khusnudzon kepada Allah. Semua ketentuan Allah itu baik.

Setelah mengalami sendiri jumlah ASI yg sedikit semakin saya bersyukur bahwa dulu dua kali diberi Allah kemudahan saat menyusui Mimi dan Lili. Menulis ini untuk pengingat diri agar selalu bersyukur, dan tidak menyerah, disetiap kesulitan pasti ada kemudahan dan saya sendiri sudah merasakannya. Dan jangan pernah kita terlalu anti atau benci terhadap sesuatu, bahwa saya sendiri dari dahulu sangat anti formula, namun Qodarullah formula sendiri menjadi penolong untuk Alia disaat ASI saya tidak mencukupi.

Sampai saat ini pendapat bahwa ASI adalah makanan terbaik tentu tetap sy percaya tapi disaat kondisi2 tertentu apabila mengharuskan baby diberi tambahan formula tidaklah perlu ada yang mencela atau memberi stetment negatif. Karena setiap ibu tentunya ingin yang terbaik untuk anak2nya. Tidak perlu ada label bayi ASI atau bayi formula. Dan benar adanya bahwa insyaAllah produksi ASI akan selalu menyesuaikan kebutuhan bayi, namun pada kondisi2 tertentu ASI tdk bisa diproduksi secara maksimal, disinilah perlunya dukungan berbagai pihak. Sebaiknya memang meminta bantuan pada tenaga ahli apabila mengalami masalah dalam menyusui ataupun perkembangan bayi, bukan hanya mengandalkan dulu begini dulu begini. Karena setiap anak itu berbeda.

Semoga Allah mencukupkan rejeki ASI untuk Alia sampai usia 2 tahun. Alia dapat tumbuh sehat, solehah dan cerdas. Menjadi anak yang kuat dan pantang menyerah..Aamiin

Bagikan artikel ini:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments