Mengapa Orang Belanda Cerdas dan Pintar?

Mengapa Orang Belanda Cerdas dan Pintar?

Ketika pertama kali saya tiba di Belanda, tepatnya di kota Groningen, maka saya sangat takjub dengan keindahan kotanya. Arsitektur gedungnya yang khas eropa klasik, dilengkapi dengan banyak kanal membuat atmosfernya menjadi khas dan unik. Tentunya sangat berbeda dengan suasana di Indonesia.

Tidak hanya keindahan kotanya, saya pun takjub dengan banyaknya orang Belanda yang sangat fasih berbahasa inggris. Hal ini tentunya membuat saya kaget, karena memang bahasa inggris bukanlah bahasa ibu mereka, di mana warga Belanda selalu berkomunikasi dengan bahasa mereka sendiri, yaitu bahasa Belanda. Sejak saat itu saya penasaran mengapa hampir semua orang (perkiraan saya mencapai 80%) fasih sekali berbahasa inggris.

Setelah beberapa hari saya tiba di Groningen, mulailah saya mengikuti perkuliahan di sini. Saya masih ingat, salah satu mata kuliah yang saya ikuti berupa sebuah workshop, di mana kami diberi penjelasan tentang proses perjalanan studi S3 (doktoral) secara keseluruhan. Saya pun kemudian bertanya kepada salah satu PhD student yang asli Belanda mengapa kalian bisa sangat fasih berbahasa inggris? Dia pun menjawab dengan sederhana bahwa kami sudah diajari berbahasa inggris sejak SD.

Hmm pikiran saya saat itu masih belum percaya 100% karena di Indonesia (pada saat saya dulu) kami juga sudah diajari bahasa inggris mulai SMP kelas 1, dan sekarang yang saya dengar anak SD juga sudah mulai diajarkan bahasa inggris. Walau demikian, saya belum melihat banyak anak indonesia yang sudah fasih berbahasa inggris sejak kecil. Mungkin ada beberapa yang berasal dari sekolah internasional cukup fasih bahasa inggrisnya, tapi tidak secara umum. Saya masih harus mencari tahu jawabannya!

Selang beberapa saat saya juga mulai mengikuti perkuliahan di kelas layaknya kuliah-kuliah pada umumnya. Saya mulai ikut kelas di mana banyak mahasiswanya berasa dari negara-negara lain dengan komposisi setidaknya 70% masih mahasiswa yang berasal dari Belanda.

Lagi-lagi saya dibuat kaget, karena kemampuan mahasiswa Belanda sangatlah mumpuni. Kecerdasan mereka memang di atas rata-rata. Kemampuan komunikasi mereka sangat baik, lancar, dan percaya diri. Hal ini tidak saya temui saat saya kuliah di kampus terbaik sekalipun (seperti di ITB tempat saya kuliah dulu). Kualitas mahasiswa Belanda memang merata, bahkan kemampuan tekniksnya (seperti matematika dan statistik) sangatlah baik. Hmm saya jadi semakin penasaran, mengapa orang Belanda bisa cerdas-cerdas seperti ini..

Setelah kurang lebih 3 tahun saya berada di Belanda, saya mengetahui bahwa sistem pendidikan di Belanda memang sangat berbeda. Di Indonesia, pendidikan kita dimulai dari SD-SMP-SMA dan semuanya bersifat hafalan dan sama rata. Artinya semua murid mempelajari pelajaran yang sama,satu-satunya yang berbeda adalah ketika di SMA mulai ada penjuruan IPA dan IPS. Dengan demikian, murid yang tidak pandai matematika (walaupun dia di IPA) tetap dipaksa belajar matematika. Begitu pula dengan ekonomi di pejuruan IPS, jika ia memang tidak suka ekonomi, lebih suka sejarah misalnya, tetap saja ia harus belajar ekonomi, dan nilainya harus di atas standar minimal agar bisa dinyatakan lulus.

Jika dipikirkan mendalam, pada dasarnya siswa sekolah di Indonesia didesain untuk menjadi lulusan yang siap kerja. Itulah kenapa kita diwajibkan melahap semua mata pelajaran, dengan harapan jika sudah lulus dan diterima bekerja, maka kita sudah memiliki keterampilan (skill) yang dibutuhkan, walaupun standarnya sangat minimum (tidak benar-benar mahir). Dengan demikian, di Indonesia banyak ditemukan orang yang tidak nyaman bekerja, karena mereka bekerja untuk mendapatkan uang. Kita memang perlu uang, tapi sebagian besar, tidak benar-benar menikmati pekerjaannya. Tentu jika pembahasan ini diteruskan akan menjadi sangat panjang.

Sekarang kita bahas sistem pendidikan di Belanda. Di sekolah dasar (basisschool – setara dengan SD), anak-anak tidak langsung diajari calistung (baca-tulis-hitung), tapi murni bermain. Sampai dengan kelas 3 SD anak-anak hanya dikenalkan bermain bersama teman-temannya secara berkelompok. Anak-anak juga mulai diajarkan untuk tampil di depan umum, seperti memainkan peran, akting, menyanyi, ikut pertunjukan dan lain-lain. Sejak kecil mereka dibiasakan untuk bisa percaya diri di depan umum.

Setelah anak masuk kelas 4 SD barulah mulai diajari berhitung dan membaca. Anak-anak mulai diajari penjumlahan, perkalian dan pembagian. Selain itu mereka juga sudah mulai diajari menulis huruf balok dan latin. Jika dibandingkan, maka sebenarnya kelas 4 SD di Belanda sama dengan calistung di SD kelas 1 di Indonesia. Yang berbeda adalah anak kelas 4 SD di Belanda mentalnya sudah siap, dan keinginan bermainnya sudah terpuaskan.

Setelah itu lanjutlah mereka sekolah dasar (basisschool) sampai usia 12 tahun (setara SMP kelas 2), dan ketika mau lulus ditawarkanlah penjurusan oleh sekolah. Bakat anak selama sekolah 8 tahun diamati, dan dinilai secara teliti apakah anak ini cocok melanjutkan ke sekolah kejuruan (disebut VMBO yang setara setara SMK) atau sekolah pendidikan tinggi (HAVO-5 tahun dan VWO-6 tahun). Lulusan HAVO dan VWO bisa lanjut ke perguruan tinggi, sementara lulusan VMBO hanya bisa melanjutkan ke pendidikan yang bersifat aplikatif. Dengan demikian, lulusan-lulusan ini memang mereka yang sudah sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing, Dengan demikian wajar sekali jika di universitas saya melihat mahasiswa Belanda memang benar-benar memiliki kemampuan yang memuaskan. Berbeda dengan sistem di Indonesia bukan?

Ada hal yang menarik lagi, yaitu ketika saya berkunjung ke sebuah perpustakaan terbesar di Groningen, Belanda, dan mungkin ini juga merupakan universitas terbesar di Belanda. Saya melihat bahwa negara memang hadir untuk mempersiapkan generasi penerusnya. Masyarakat (khususnya anak-anak) memang sudah dibiasakan membaca sejak kecil. Perpustakaan raksasa ini dibuat sangat ramah anak, bahkan tidak terkesan seperti perpustakaan yang konvensional dan kaku.

Berikut adalah liputan saya, di mana saya juga sempat berdiskusi tentang budaya membaca di Belanda dengan sahabat saya seorang kandidat S3 yaitu Amak M. Yaqoub.

Semoga apa yang saya tulis ini, termasuk video yang saya perlihatkan memberikan gambaran bahwa memang peran negara sangat penting. Sistem yang memang terencana dan didesain dengan sangat baik, akan memberikan hasil yang baik pula. Ini merupakan pekerjaan rumah (PR) yang harus bisa kita selesaikan bersama-sama sebagai warga Indonesia.

Bagikan artikel ini:
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Adi
4 months ago

Sangat inspiratif pak Mega…..thanks buat sharing-nya.