Tantangan Kehidupan Studi Doktoral di Groningen, Belanda

Tantangan Kehidupan Studi Doktoral di Groningen, Belanda

Hidup di negeri kincir angin sebagai pelajar memang tidaklah mudah. Apalagi ditambah dengan membawa anak dan istri untuk menemani saya dalam mengenyam pendidikan doktoral membuat saya harus benar-benar fokus menyelesaikan studi di sini. Beberapa tantangan dalam hidup di Belanda berbagai macam, di antaranya tantangan makanan, budaya, cuaca, dan yang tidak kalah penting adalah tantangan keimanan.

Di Belanda segala sesuatunya sangatlah bebas. Salah satu supervisor saya pun pernah mengatakan bahwa kamu bisa melakukan apapun di Belanda, asal hal itu tidak mengganggu orang lain! Ya benar, Belanda adalah pusatnya HAM (hak asasi manusia) jadi di sini hak individu sangatlah dijunjung tinggi. Walaupun ini tampakmenarik di telinga, tapi sebenarnya justru bisa membawa malapetaka, lebih tepatnya menggerus keimanan secara perlahan.

Sebagai contoh, saat ada acara dinner bersama rekan-rekan satu kantor maka sudah sangat umum untuk ditutup dengan minum beer atau wine bersama-sama, dan sangat aneh jika kita menjadi satu-satunya orang yang tidak ikut minum. Itulah tantangannya, sebagai seorang muslim maka mau tidak mau kita harus memegang teguh keimanan. Keberanian untuk berkata tidak, bahkan kepada supervisor kita sendiri adalah jawaban yang harus diambil.

Contoh lain adalah ketika kita mulai memasukkan anak kita ke sekolah Belanda maupun sekolah internasional yang ada di sini. Anak-anak mulai dikenalkan budaya perayaan natal, dan terkadang di sekolah juga ada makanan berat, dan permen yang sering tidak halal. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi orang tua untuk memberikan edukasi ke anak tentang makanan dan minuman apa saja yang boleh dimakan. Selain itu juga memberikan wawasan tentang acara perayaan apa saja yang memang bagian dari Islam dan mana yang harus dihindari, namun tetap bergaul ke banyak orang.

Solusi yang bisa dilakukan untuk membentengi keluarga dari budaya-budaya luar dan tentunya mempertebal keimanan adalah dengan berkumpul dengan orang-orang yang sholeh. Alhamdulillah di kota Groningen ada perkumpulan keluarga muslim yang disebut dengan DeGromiest. Pekrumpulan ini sebagian besar terdiri dari para pelajar Indonesia yang menempuh studi di Groningen ditambah dengan mereka yang memang sudah menetap lama di Belanda untuk bekerja dan menikah dengan orang Belanda.

Setiap minggunya DeGromiest mengadakan acara silaturahim yang terdiri dari beberapa bagian. Di waktu awal terdapat pengajian anak, sehingga anak-anak bisa belajar baca tulis Al-Quran dan tentunya memperkenalkan mereka lebih dekat tentang Islam. Anak-anak juga bisa berkenalan satu dengan lainnya sesama orang Indonesia. Setelah acara pengajian anak selesai, dilanjutkan dengan acara Darling (tadarus keliling) yang dilengkapi juga dengan kultum (kuliah terserah antum). Di acara darling ini kita yang dewasa akan membaca Quran bersama-sama dilanjutkan dengan membuat kelompok sebanyak minimal 3 orang. Setelah itu saling memerhatikan tajwid teman kita yang sedang membaca Quran, lalu bergantian.

Dengan adanya perkumpulan semacam ini bisa merecharge (mencas) kembali keimanan kita dan tentunya kita tidak merasa berjuang sendirian. Perkumpulan ini juga menjadi sarana belajar agama Islam, karena beberapa teman juga merupakan lulusan pendidikan agama sehingga keilmuannya memang mumpuni.

Jadi pada dasarnya sekolah di luar negeri bukanlah sesuatu yang menakutkan asal kita bisa terus membentengi diri kita untuk selalu belajar tentang agama dan tentunya berkumpul dengan orang-orang yang positif.

Demikian tulisan saya kali ini, semoga memberikan gambaran bagaimana tantangan seorang pelajar di Belanda. Jika penasaran seperti apa komunitas DeGromiest di Groningen, Belanda lengkap dengan kegiatannya, saya telah mendokumentasikannya dalam bentuk video.

Semoga bermanfaat!

Bagikan artikel ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of